surat cinta untuk sahabat
Kepada kamu,
Aku masih menghitung telah berapa lama kita bersama. Tapi bahkan jari-jariku tidak cukup banyak. Kurasa kita telah saling mengenal sebelum kita dilahirkan.
Tidak perlu kukatakan apa saja yang telah kamu lakukan untukku, dan betapa itu semua menjadi sangat berharga. Betapa aku menyayangimu dan akan sangat sedih kehilanganmu.
Ingat ketika kita berhasil menonton konser di stadion dekat rumahmu tanpa membeli tiket? Akting kamu benar-benar seperti aktor handal. Atau ketika kamu berlari sepanjang lorong rumah sakit seperti orang kesurupan menggendongku yang hampir pingsan? Rupa persahabatan menjadi nyata di mataku pada dirimu.
Kamu bisa memberiku kebahagiaan melebihi apapun di dunia ini. Tapi kamu juga pernah meninggalkanku sendirian dan kesepian. Tidak ada sapaan pagi, tidak ada tur keliling kota malam minggu, tidak ada sesi curhat tiap malam, tidak ada lelucon, yang walaupun garing setengah mati, tetap bisa membuatku tertawa. Tiap kutanya, kamu selalu bilang tidak ada apa-apa. Tapi aku tahu dari teman-teman, kamu dalam misi pengejaran seorang cewek. Huuh, seberapa pentingkah dia sampai-sampai kamu melupakan aku? Mama saja sampai heran, tidak biasanya kamu absen ke rumah selama sebulan.
Ulang tahunku, menjadi hari yang berbeda dari hari-hari lainnya. Bahkan dari tahun-tahun sebelumnya. Ritualnya sama, make a wish, tiup lilin, menggantung burung kertas di depan jendela. Aku percaya saja bahwa burung itu akan membawa permohonanku ke langit, gara-gara kamu yang menceritakannya. Semua sama, hanya saja semua terasa lebih istimewa. Setiap sentuhan menjadi lebih berharga.
Aku gak tahu apa yang membuatnya begitu. Kamu, gayamu, semuanya sama. Tapi entah kenapa rasanya kamu berbeda. Melihatmu, seolah seluruh nuraniku berkata aku akan merasa lebih takut kehilanganmu dari sebelum-sebelumnya.
Berhari-hari, berminggu-minggu aku mencoba menafsirkan keanehan ini. Lebih aneh lagi ketika hatiku berdebar melihatmu berdiri di depan kelas, memicingkan mata mencari gerombolan temanmu di lapangan. Atau ketika kamu menggandeng tanganku menyeberang jalan. Perhatian yang biasa, tapi rasanya tidak biasa.
Berkali-kali aku mencoba mengingkari ketika hatiku menyebutkan satu alasan : aku jatuh cinta pada sahabatku.
Benarkah itu? Aku mencari penjelasan logis dari semuanya.
Hingga pada akhirnya aku menyerah. Perasaan itu terus saja berpolah, meski dikurung dalam peti berkunci besi.
Aku telah mematahkan prinsipku sendiri : tidak akan jatuh cinta pada sahabat. Tapi ayolah, bahkan aku sendiri pun tidak bisa menahannya untuk tumbuh.
Hanya itu, alasan satu-satunya untuk semua keanehan ini. Hanya itu, yang bisa aku sampaikan padamu.
-sahabatmu-

con il pieno d’amore…
aq berjalan di sampingmu
tapi tak ada yang kau lakukan
tidak memegang tangan seperti ketika Cinta pergi bersama Rangga untuk pertama kali
atau merangkul pundak seperti seorang jagoan
tapi kau berpindah ke sisi kiri saat kita menyebrang
dan berjalan di sisi luar saat kita menyusuri pinggir jalan
aq berdiri di sampingmu
ketika kau bertemu teman-temanmu
aq merasa asing, kau tau itu
dan kau menatap mataku
seolah berkata, “ayo kita pergi dari sini”
tak apa,,
cuma satu yang membuatku akan tetap di sampingmu
yaitu bahwa kau ada di sini untukku
hanya karena aq
con il pieno d’amore…

always with you
abu-abu
Awan gelap menggelayut di bagian utara kota ini. Hujan lokal lagi. Tidak adil sepertinya, ketika bagian selatan masih merindukan sesuatu untuk menyejukkan kegerahan. Hawa sejuk berhembus melewatiku, memaksaku merapatkan jaket abu-abu yang kukenakan. Abu-abu, bukan warna favoritku sebenarnya. Tapi seseorang membuatku menyukainya. Ia bersikeras, abu-abu adalah warna yang hangat. Lebih hangat daripada hitam. Kutanya mengapa, ia tidak pernah bisa menjelaskan. Hanya segaris senyum terbentuk di bibirnya. Yah, mungkin memang ada beberapa hal yang tidak butuh penjelasan untuk dirasakan. Tapi menurutku, siapapun akan merasa hangat jika mengenakan jaket abu-abu setebal ini. Ia memberiku jaket ini setahun lalu, ketika kami merayakan tujuh bulan jadian. Kata orang pamali untuk memberikan kado baju pada pacar. Bisa-bisa cepat putus. Tapi nyatanya, sudah hampir 2 tahun dan kami masih saling mencintai. Aku hanya bisa bilang, mitos itu bisa menghambat bisnis produsen pakaian.
Kupercepat langkahku, sambil berdoa semoga hujan tidak turun saat ini. Tidak sebelum aku mencapai tempat itu. Tapi siapa bisa menahan, tetes-tetes hujan tumpah juga. Dalam sekejap, aku basah kuyup. Kurus dan basah, persis tikus got.
***
Suara klintingan terdengar ketika aku membuka pintunya. Kafe itu, tempat tujuanku, sebenarnya hanya beberapa puluh meter dari tempatku kehujanan tadi. Tapi karena hujan yang turun sangat deras dan tidak ada tempat berteduh, mau tidak mau seluruh tubuhku basah. Rasa hangat dan aroma khas menyambutku di pintu. Aroma ini, aku tidak tahu darimana asalnya. Dari bahan kuekah? Atau dari bangunan yang memang sudah tua? Yang pasti aroma ini sangat khas di kafe ini. Pemilik kafe menyapaku dari balik meja bar. Ia melemparkan sehelai handuk untuk kupakai mengeringkan diri. Jangan tanya bagaimana aku bisa mengenalnya. Tidak akan cukup waktu untuk menjelaskan. Antara aku dan pemilik kafe ini terjalin hubungan yang istimewa. Bukan sekedar teman, tapi saudara.
Aku segera menuju kamar mandi. Mencoba mengeringkan apa yang bisa kering. Setidaknya agar tidak ada air menetes dari tubuhku.
Segelas coklat hangat sudah tersedia di meja bar ketika aku kembali. Tidak perlu diminta, itu adalah pesanan tetap setiap kali aku kesini. Tolong jangan tertawa, tapi aku tidak bisa minum kopi. Perutku mual dan jantungku berdebar begitu kafein masuk ke dalam aliran darahku.
“Udah ditungguin dari tadi, Non!” ujar pemilik kafe dengan ujung mata mengarah ke meja pojok.
Di meja itu, duduk seorang pria dengan kemeja kotak-kotak, kacamata boldframed dan secangkir cappuccino di depannya. Pria itu tersenyum ke arahku, menawan sekali. Mungkin itu alasannya aku bisa jatuh cinta padanya. Alasan untukku akan bisa bertahan menunggunya. Yap, itu adalah kekasihku. Ia duduk di sana sejak tadi. Mungkin tadi ia melihat sewaktu aku masuk, tapi diam saja. Senyumnya melebar, berubah menjadi tawa yang menggemaskan. Aah, siapa yang bisa tahan melihatnya tertawa seperti itu.
Ia mendekatiku, mengacak-acak rambutku yang masih basah, lalu mengecup kepalaku. Kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan, tapi aku suka. Saat itu aku bisa mencium aroma parfum di tubuhnya. Menyenangkan sekali.
“Jadi?” tanyaku.
“Maunya sih nggak. Tapi mau gimana lagi. Aku kabur sebentar,” jawabnya.
Dadaku berdesir. Tidak ingin ini benar-benar terjadi. Tapi tidak bisa berbuat apa-apa juga. Aku tahu ia juga tidak ingin ini terjadi. Kupasang senyum paling manis yang kupunya dan memeluknya sebentar.
“Yuk!” ajakku.
Kami pamit pada pemilik kafe. Ia berpesan agar kami hati-hati. Dan kini saatnya, aku akan memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya.
Bunyi klintingan terdengar lagi ketika kami keluar. Kutarik tangannya menuju halte bus terdekat. Tapi tiba-tiba ia berhenti. Sambil tersenyum usil, ia menunjukkan sebuah kunci motor yang dikeluarkannya dari saku celana. Seolah tahu pikiranku, ia melirik ke arah kafe. Ketika kulihat, pemilik kafe sedang tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arah kami.
“Bentar,” ujarnya.
Ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sesuatu berwarna abu-abu. Sebuah jaket abu-abu. Dipasangkannya jaket itu di tubuhku. Hangat.
“Happy 7th month anniversary,” diacaknya rambutku, lalu dikecupnya kepalaku.
Ini tidak pernah terlintas di pikiranku sebelumnya. Betapa baiknya pemilik kafe itu, meminjamkan motornya untuk kami. Sebagai mahasiswa perantauan, bus adalah transportasi utama yang biasanya kami gunakan untuk bepergian. Dan kini, aku duduk di atas motor ini. Merasakan hembusan angin dingin sisa hujan, melewati genangan air di aspal yang mulai bolong-bolong.
***
Jaket abu-abu ini sudah basah, tapi tetap kukenakan. Pemilik kafe melempar handuk kering ke kepalaku sambil menyuruhku ke kamar mandi. Kuturuti permintaannya, mengeringkan badanku sekenanya. Kulepas jaketku, memasukkannya ke dalam tas plastik yang kuminta di dapur. Segelas coklat panas sudah tersedia di meja bar begitu aku kembali.
“Hari ini aku mau minum cappuccino aja,” ujarku.
Pemilik kafe memandangku heran. Ia tahu aku tidak bisa minum kopi. Tapi tetap saja secangkir cappuccino diletakkan di depanku. Kuputar-putar cangkir putih itu di atas tatakannya. Dari ujung mataku aku tahu pemilik kafe masih memandangiku. Cappuccino, minuman yang selalu dipesan kekasihku di kafe ini. Katanya, rasa cappuccino disini berbeda dengan kafe lainnya. Kurasakan dadaku berdesir. Mendadak aku merindukannya. Kupandangi busa halus di bibir cangkir. Sehalus itulah rasa cinta yang kualami. Hampir saja pertahananku jebol, tidak bisa menahan airmata untuk tumpah. Tidak, biar pun di luar sedang hujan deras, aku tidak akan membuat kafe ini kehujanan juga.
Kuangkat cangkirku, menyeruput isinya. Hanya busa yang terasa.
“Yakin bisa minum kopi?” ujar suara mengagetkanku.
Seketika aku berbalik. Dia. Berdiri tepat di depanku. Jantungku berdebar kencang. Apa ini karena kafein? Atau karena sosok di hadapanku ini? Entahlah. Yang pasti aku benar-benar terkejut dan berdebar.
Ia tersenyum lebar. Senyum yang dalam sekejap berubah menjadi tawa. Tawa yang sangat khas. Diacaknya rambutku yang masih setengah basah, lalu mengecup kepalaku. Aku masih terpaku. Ia pun memandangiku usil, sambil membuka tangan lebar-lebar seolah ingin berkata ‘surprise!’.
Dengan gemas kucubit perutnya, kemudian memeluknya erat. Ya Tuhan, ini benar-benar dia!
***
Suara peluit menandakan kereta akan segera berangkat. Tapi rasanya berat sekali pelukan ini kulepaskan. Membayangkan hari-hari berjalan tanpanya disini, mungkin aku bisa menjadi gila karena kesepian. Tapi tidak ada yang bisa kulakukan. Ia mendapat tawaran kerja di luar kota selama setahun. Pekerjaan yang sudah lama diimpikannya.
Kereta mulai berjalan perlahan. Kecupan terakhir diberikan di keningku sebelum ia setengah berlari mengejar gerbongnya. Lambaian tangan di pintu gerbong perlahan mengecil dan menghilang. Kurapatkan jaket abu-abu yang kukenakan untuk menahan angin yang tiba-tiba berhembus. Hangat. Dan, hmm..aroma parfumnya menempel di jaket ini.

03.04.09
11.30 wib
seolah-olah
Coba bayangkan,
Seolah-olah kamu sedang jatuh cinta
Seolah-olah dunia berhenti saat membayangkannya
Dan jantungmu berdetak lebih cepat saat mendengar suaranya.
Saat itu kamu yakin, dialah pemilik rusuk yang selama ini kamu simpan.
Kalian berbagi cerita, berbagi rahasia, berjanji saling menjaga dan ada di setiap masa.
Lalu seolah-olah kamu memiliki keberanian untuk mengatakan isi hatimu padanya
Dan dia berkata, “aku tidak tahu.”
Dengan segala kekuatan dalam hati kamu ingin tetap menjalani, walaupun tak tahu akan sampai kapan tapi kamu yakin, harapan itu masih layak untuk disimpan.
Bayangkanlah,
Seolah-olah waktunya tiba
Kamu lelah menebak-nebak dan seluruh kekuatanmu hilang
Seolah-olah kamu ingin pergi darinya, menetralkan semua perasaan yang selama ini membingungkan.
Tapi seolah-olah semua itu terlalu berat untuk dilepaskan
Karena kamu sudah terlanjur menjadikannya kebiasaan.
Lalu seolah-olah kamu menemukan petunjuk,
Bahwa kamu memang harus pergi
Bukan untuk membuatnya merasa kehilangan
Tapi untuk menemukan apa yang sebenarnya kamu cari.
Dan seolah-olah kamu pergi,
Tanpa meninggalkan pesan padanya.
Karena itu cuma seolah-olah, seharusnya tidak ada penyesalan kan?
perpisahan tanpa kata
Seperti ini…
mungkin cara yang terbaik
Karena tak perlu terucap kata-kata
ataupun melihat tetesan airmata
Tak ada haru biru sayonara
Tak perlu terima kasih atau beribu maaf
Tak perlu pembahasan kenapa atau bagaimana
Seperti ini…
dan kita berpisah dalam diam
20.03.09
stranger
who are you?
i’m not really sure
superman drops from krypton
or spiderman falls from buildings
well, i think u need a cure
disturb my focus
and i can’t see anything but you
a stranger take my heart
he took it away
a stranger make me fall
when i thought it wouldn’t sway
i’m not louis lane
or mary jane
i never fight a plane
or worth enough to be fought
but so,
i won’t get you in vain
hope you’ll never go to north pole
or die because of the kryptonite
hope you’ll never leave a hole
and make me cry at night

at any call
early in the morning
urgent, she said
someone need my presence
so i run fastly
she’s so quiet
without any words
i just sit, looking the same direction as her
without any words
remember, i will be there
remember, at any call
then she show some tears
come out with all emotion
trust me,
i still have shoulder for you to lay down
remember, i will be there
remember, at any call

mae
Kaki-kaki melangkah di depan mataku. Kaki-kaki yang bergerak cepat ingin mengalahkan waktu yang telah tercipta. Dari sini aku bisa melihat mereka yang begitu tergesa. Dunia seolah akan segera kiamat. Tak ada yang melihat seonggok daging bernyawa ini sedang menikmati pagi baru yang tak bermakna. Pagi yang sama seperti pagi-pagi kemarin, pagi yang ingin segera kuakhiri. Tiba-tiba sekeping uang receh dilemparkan ke hadapanku. Sialan! Apa aku terlihat seperti seorang pengemis?! Aku tidak butuh recehan ini! Aku bukan orang yang suka menadahkan tangan menunggu rejeki datang. Berhari-hari aku menjalani kehidupan seperti ini. Tak pernah aku terpaksa mengemis karena kehabisan uang. Aku ini anak pejabat. Mana mungkin aku kehabisan uang.
Jalanan semakin ramai. Kaki-kaki itu melangkah semakin cepat. Mungkin mereka takut terlambat. Takut disetrap, takut diskors, takut dipecat, atau mungkin takut hari ini segera habis. Semua bagai rekaman video yang dipercepat 4 kali. Berlawanan, tapi tak ada yang bertabrakan.
Aah, sudah waktunya aku memulai hari ini. Kubereskan karton alas tidurku dan tas yang menjadi alas kepalaku. Kumulai petualanganku sekali lagi hari ini. Tujuanku cuma satu, mencari kekasih hatiku yang diculik. Diculik? Ya, dia memang diambil paksa dariku untuk diperistri oleh seorang bajingan yang mengaku dirinya normal, lelaki sejati. Memangnya aku nggak normal apa? Aku juga manusia yang memiliki tubuh sempurna, tak bercacat. Setahuku aku juga tidak punya sejarah kelainan jiwa atau sejenisnya. Jadi, aku juga normal.
Kekasihku diculik dan dibawa ke kota ini oleh bajingan itu. Penculikan atas dasar nama baik keluarga. Bullshit! Kenapa seluruh dunia seolah tidak mendukungku menjalin cinta dengan kekasihku? Kami saling mencintai, lalu apa yang salah?! Aku bisa membiayai hidupnya, lalu apa yang kurang?! Bahkan orangtuaku pun tak merestui hubungan kami. Dia adalah belahan jiwaku, dan dia pergi membawa hatiku. Untuk itu aku harus mencarinya dan membawa kembali hatiku yang dibawanya.
Kutelusuri jalan-jalan ini seorang diri, berjalan kaki. Bajuku lusuh, entah kapan aku terakhir mandi. Tapi penampilan seperti ini menguntungkan juga. Setidaknya aku terbebas dari para pencopet. Mungkin mereka berpikir apa yang bisa dicopet dari gembel seperti aku. Paling orang-orang cuma berkomentar, “Sayang, cakep-cakep gembel !” itu pun kalau mereka masih sudi melihat wajahku.
Berjalan seorang diri tak membuatku takut. Untuk apa? Hampir seumur hidupku aku sendirian. Mana orangtua yang seharusnya perhatian dan penuh kasih sayang? Mana teman-teman yang mendorong di saat bimbang? Semuanya semu. Tak ada yang benar-benar peduli padaku, kecuali kekasihku tentunya. Mereka hanya melihatku saat aku melakukan kesalahan dan menjadikannya sebuah aib. Tapi aku senang dengan kesendirian ini. Setidaknya aku bisa menikmati duniaku, dunia yang dianggap haram oleh kaum awam, tapi menyenangkan.
Aku terus mencari tanpa tahu arah kakiku melangkah. Bagaimana aku bisa tahu kalau tidak ada petunjuk apapun dimana kekasihku berada? Aku melangkah dengan membawa keyakinan aku akan sampai padanya. Keyakinan yang menjadi pegangan, siapa tahu Tuhan mendengarnya.
Saat itu akhirnya datang. Aku melihat kekasihku di depan sebuah rumah. Ooh, tak tertahankan rasa rindu yang membuncak ini. Aku segera menghampirinya, ingin memeluknya, menciumnya, dan membawanya kembali ke pangkuanku. Tapi langkahku terhenti. Sialan! Dia bersama bajingan itu. Ingin sekali aku mehajarnya sampai babak belur. Kalau bisa sampai dia tak sanggup lagi berdiri apalagi menyombongkan kejantanannya. Tapi aku tak mau mengotori tanganku dengan menyentuhnya. Tujuanku hanya membawa kembali kekasihku dan hidup bersama selamanya, seperti dongeng-dongeng pengantar tidur. Jadi aku menunggu. Menunggu kekasihku sendirian dan siap kuajak pergi. Tapi sampai kapan aku harus menunggu?
Tak lama untuk kesempatanku tiba. Tak lama setelah aku berpikir tentang kehidupan bahagia yang akan kami jalani berdua.
“Mae…” Ia menatapku, antara heran, senang, bingung, dan beragam ekspresi yang tak kumengerti.
“Sayang, aku datang!” Serta merta aku memeluknya, menciumnya, menghirup aroma rambutnya, tubuhnya, semuanya tak berubah, “Aku kangen banget. Aku mau bawa kamu pergi.”
Satu reaksi yang tak kusangka, ia malah menggeliat melepaskan pelukanku.
“Mae, mendingan kamu bersihin badan kamu dulu,” ujarnya.
Sampai saat itu aku belum mencium suatu kejanggalan apapun. Bagai seekor anjing aku menurut saja dituntunnya ke kamar mandi.
Tak lama waktu yang kubutuhkan untuk membersihkan diri. Apalagi aku sudah kangen berat pada kekasihku.
“Put, cepat kamu bereskan barang-barang kamu! Kita pergi dari sini sekarang,”
Sekali lagi reaksi yang tak kusangka. Ia hanya terdiam, bungkam seribu bahasa.
“Put…”
Perlahan ia mendekatiku, menyentuhkan jemari lembutnya di pipiku.
“Maafin aku, Mae, tapi aku nggak bisa ikut kamu pergi,” katanya.
Kata-kata yang mengerikan di telingaku. Terasa menusuk dan menyakitkan.
“Kamu pasti sudah dipengaruhi bajingan itu. Dikasih makan apa kamu sama dia?!”
“Mae, ini keputusanku!”
“Tapi kenapa, Put?”
Ia diam sejenak, melewatiku, lalu memandang keluar jendela seolah-olah ada sesuatu yang ajaib di sana. Ayolah, tak usah mengulur-ulur waktu seperti ini!
“Aku butuh pengakuan.”
Bagai diserum listrik ribuan volt aku mendengarnya, membingungkan sekaligus menyakitkan.
“Denganku, kamu selalu diakui.” ujarku geram, karena aku tak tahu apa yang salah dengan hubungan kami.
“Kita nggak cuma hidup berdua, Mae! Aku butuh pengakuan dari orang-orang. Aku nggak bisa hidup sama kamu.”
“Kamu lebih peduli orang-orang daripada aku, Put?! Kamu sama aja sama semua brengsek itu!”
“Mae! Aku cuma ingin hidup normal, tanpa pandangan sinis orang.”
“Kamu pikir kita gila? Kamu yang gila, Put! Kita ini manusia bebas. Nggak ada yang bisa melarang kita untuk saling mencinta.”
“Tapi kenyatannya semua melarang, Mae! Orangtua kamu, orangtuaku, semua orang nggak setuju sama hubungan kita.”
“Put, kamu menyesal? Kamu menyesal menjadi seorang lesbian?” Ia menggeleng kuat sambil menutup telinga,” Kamu menyesal mencintai aku?” nadaku meninggi.
Ia terus menggeleng, “Jangan ucapkan kata-kata itu lagi, Mae!”
“Apa? Kamu malu dengan predikat LESBIAN? Realize it, Put! That’s what we are!”
Ia mengeluarkan airmata yang konyol. Harusnya kan aku yang menangis. Harusnya aku yang terluka.
“Mae, tolong pergi! Please…”
Tanpa permohonan yang lebih menyakitkan lagi aku pergi. Tak peduli pada airmata Putri yang semakin deras atau tangisannya yang semakin kencang. Ia sudah menolakku. Menolak hidupku yang dulu pernah dijalaninya. Tak ada rasa sakit yang lebih perih dari ini. Ya, inilah jalan hidup yang harus kutempuh. Jalan hidup seorang lesbian. Apa ini dosa? Apa ini virus yang dengan cepat menulari orang-orang disekitarku sehingga aku harus mendapatkan penolakan seperti ini? Aku adalah seorang lesbian dan selamanya akan seperti itu. Sekali lagi aku menyusuri jalanan tanpa tujuan yang jelas. Kali ini benar-benar tidak jelas, karena tujuanku telah mati.
REUNI
Harun mematut diri di depan cermin, merapikan kemeja biru dan celana jeans baru di atas tubuhnya yang sedikit kaku. Malam ini ia akan menghadiri reuni SMA. Harun merasa agak kikuk, mencoba menarik nafas berkali-kali dan terbatuk. Bayangan akan bertemu dengan teman-temannya yang sudah dua puluh satu tahun tak bertemu membuatnya gugup. Dua puluh satu tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk berpisah. Bukan pula waktu yang sebentar untuk kembali dengan perubahan-perubahan berarti pada hidup masing-masing.
Harun mengambil sisir, merapikan rambutnya yang berbelah pinggir. Uban sudah merajalela di beberapa bagian.
Harun mengambil minyak wangi, menyemprotkan pada tubuhnya. Sret..sret.. Aroma semerbak langsung memenuhi ruangan. Bercampur antara aroma minyak wangi dan kopi yang masih mengepul. Atau aroma minyak wangi dan bau apek tumpukan baju kotor di pojok ruangan. Pemandangan yang kontras dengan penampilan Harun saat ini. Harun memandang berkeliling kontrakannya. Kontrakan yang menghabiskan separo gajinya yang tak seberapa. Kontrakan yang hampir tak dapat dibedakan dengan kandang sapi karena terlalu banyak barang berserakan. Satu alasan Harun mempertahankan kondisi seperti itu ialah takut barangnya menghilang jika dibereskan. Maka tak heran setiap pengunjung yang mampir tak akan betah berlama-lama tinggal.
Jam dinding berbunyi sekali. Jarum panjang dan pendek menunjukkan pukul 6. Harun menarik nafas. Ia harus berangkat sekarang atau akan terlambat. Reuni akan diadakan di gedung SMAnya dulu. Lumayan jauh. Sekali lagi ia mematut pantulan dirinya di cermin. Bayangan seorang pria berusia thirty something di depannya sedikit kuyu. Matanya sayu dan memancarkan sedikit rasa malu. Benaknya dipenuhi berbagai perkiraan. Kira-kira siapa saja yang akan ditemuinya. Kira-kira sudah jadi apa teman-temannya. Kira-kira apa yang akan menjadi bahan obrolan mereka. Kira-kira ia akan bertemu dengan cinta pertamanya atau tidak. Kira-kira..kira-kira..
Setelah memastikan semuanya sempurna, Harun beranjak menuju pintu. Kunci mobil sudah di tangan. Mobil yang susah payah dipinjam dari sepupunya dengan 1001 rayuan plus sogokan makan di “tempat terhormat”. Hari ini adalah hari penting baginya. Karena itu, semua harus tampak sempurna. Meskipun Harun harus memanipulasi penampilannya sedemikian rupa.
Tak sulit bagi Harun menemukan teman-teman seangkatannya di antara ribuan peserta yang hadir. Mereka berkumpul di belakang kantin, tempat biasa mangkal kala sekolah. Reuni ini akbar, membuat Harun tambah gemetar. Apalagi ketika ia melihat satu persatu teman-temannya berpenampilan layaknya orang sukses. Entah karena sukses betulan atau pura-pura sukses seperti dirinya.
Adya, anak walikota kala itu, sudah menjadi wakil rakyat di parlemen. Atik, anak guru biologi, juga menjadi guru biologi di sebuah sekolah internasional. Membuktikan kebenaran pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Tapi rasa terkejut tak mampu disembunyikan Harun ketika melihat Digo, yang dulu terkenal sebagai tukang pukul, menjadi seorang rohaniwan. Geo yang dulu selalu menconteknya saat ulangan dan meminjam PRnya sudah menjadi direktur sebuah perusahaan perbankan. Membuktikan lagi bahwa waktu mampu mengubah segalanya seperti nasib bisa merubahmu 180 derajat. Harun melihat dirinya. Ia sudah kalah oleh waktu. Ia kalah karena tak mau berlari. Ria, cinta pertamanya, sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Harun ciut. Dari lima wanita yang pernah dipacarinya, tak ada satupun yang bersedia berikrar sehidup semati bersamanya. Bukan sepenuhnya salah mereka. Ia sendiri yang tak percaya bahwa ia akan mampu memberikan cinta sebesar itu.
Kemudian sampailah pada situasi yang sangat dibencinya. Mulai dari
“Kamu kerja apa sekarang?”
“Anakmu berapa?”
sampai
“Ayo kita kumpul-kumpul lagi. Di rumahmu ya!”
Oh tidak..
Harun ingin teriak. Ia ingin segera beranjak. Batinnya tak bisa menahan lebih lama lagi. Ia seperti seorang pecundang di tengah kehidupan teman-temannya yang gemilang. Reuni yang sempurna seketika berubah menjadi petaka. Ia ingin kabur. Tapi nasi sudah jadi bubur. Harusnya ia tak memenuhi undangan reuni ini, yang sudah menjadi ajang pamer kepura-puraan baginya.
Ia iri, merasa tak sebanding. Lebih dari itu, ia malu. Apa yang dilakukannya selama ini? Waktu terus berjalan dan tak ada waktu untuk berhenti barang sejenak. Pilihan yang ada hanyalah terus berjalan atau tertinggal. Dan ketika waktu terus berjalan, tanpa terasa kita telah jauh melangkah. Tak ada jalan untuk kembali. Tak akan ada.
Harun beranjak mundur, mencoba mengumpulkan kembali penyesalan-penyesalan yang selama ini diacuhkannya.
a phone call
kau terkejut membaca pesanku. lalu tergesa menelepon dengan pertanyaan yang sudah kuduga. ingin rasanya aku berlari keluar, berteriak untuk lepaskan semua, menghindar darimu. tapi aku harus di sini, menjawab rasa penasaranmu yang tak pernah bisa kuhentikan. kau terus mengejarku dengan pertanyaan itu, seperti sahabat yang terlalu peduli.
sejak kapan kita jadi sahabat? kau hanyalah sahabat temanku dan aku bicara padamu semata karena kau adalah kandidat yang ditawarkan. lalu aku jatuh cinta sebelum persahabatan itu dimulai, dan tak pernah menyadari bahwa ini akan cepat selesai. apa yang harus kulakukan setelahnya? tetap menjadi sahabatmu yang baik? sejak kapan kita jadi sahabat?
aku diam. kau pun akhirnya diam.
tapi kediaman ini terasa menusuk, menyakitkan. mimikku pasti menunjukkan kalau aku tidak nyaman. tapi kau disana, tak akan bisa melihatnya.
“besok. gak tahu sampai kapan di sana,” tenggorokanku akhirnya mengizinkan kata-kata itu keluar.
aku diam lagi. kau pun tak memberi reaksi. kediaman ini semakin menyakitkan karena kutahu kau pun merasa tak nyaman di sana.
satu detik, dua detik, lima detik kemudian baru kau membuka suara.
“aku akan kehilangan sesuatu tanpa kamu.”
kau tak pernah cukup memilikiku untuk merasa kehilangan. bahkan mungkin setelah satu minggu atau dua minggu kau akan melupakan percakapan ini. tapi tidak untukku. dua tahun bergulat dengan perasaan sebelum akhirnya kupilih jalan ini, semata karena kutahu kau tak mungkin memilihku. dan hidup tak memberi pilihan. mungkin ini satu-satunya cara agar aku bisa melupakan bahwa aku pernah jatuh cinta dan memberi pelajaran untuk tidak lagi mencuri start.
kau menyudahi pembicaraan dengan cara yang aneh. entahlah, karena di sini juga terasa aneh. aku masih memandangi pesawat telepon itu, seolah bisa melihatmu di ujung sana.
apa yang kau lakukan sekarang? menangis? semoga tidak. karena jika ya, aku akan serta merta berlari kepadamu, memelukmu erat seperti seorang ibu tak mau dipisahkan dari anaknya. dan itu akan semakin membuatku gila.