surat cinta untuk sahabat

Juni 9, 2009 at 3:52 pm (tulisan tangan)

Kepada kamu,

Aku masih menghitung telah berapa lama kita bersama. Tapi bahkan jari-jariku tidak cukup banyak. Kurasa kita telah saling mengenal sebelum kita dilahirkan.

Tidak perlu kukatakan apa saja yang telah kamu lakukan untukku, dan betapa itu semua menjadi sangat berharga.  Betapa aku menyayangimu dan akan sangat sedih kehilanganmu.

Ingat ketika kita berhasil menonton konser di stadion dekat rumahmu tanpa membeli tiket? Akting kamu benar-benar seperti aktor handal. Atau ketika kamu berlari sepanjang lorong rumah sakit seperti orang kesurupan menggendongku yang hampir pingsan? Rupa persahabatan menjadi nyata di mataku pada dirimu.

Kamu bisa memberiku kebahagiaan melebihi apapun di dunia ini. Tapi kamu juga pernah meninggalkanku sendirian dan kesepian. Tidak ada sapaan pagi, tidak ada tur keliling kota malam minggu, tidak ada sesi curhat tiap malam, tidak ada lelucon, yang walaupun garing setengah mati, tetap bisa membuatku tertawa. Tiap kutanya, kamu selalu bilang tidak ada apa-apa. Tapi aku tahu dari teman-teman, kamu dalam misi pengejaran seorang cewek. Huuh, seberapa pentingkah dia sampai-sampai kamu melupakan aku? Mama saja sampai heran, tidak biasanya kamu absen ke rumah selama sebulan.

Ulang tahunku, menjadi hari yang berbeda dari hari-hari lainnya. Bahkan dari tahun-tahun sebelumnya. Ritualnya sama, make a wish, tiup lilin, menggantung burung kertas di depan jendela. Aku percaya saja bahwa burung itu akan membawa permohonanku ke langit, gara-gara kamu yang menceritakannya. Semua sama, hanya saja semua terasa lebih istimewa. Setiap sentuhan menjadi lebih berharga.

Aku gak tahu apa yang membuatnya begitu. Kamu, gayamu, semuanya sama. Tapi entah kenapa rasanya kamu berbeda. Melihatmu, seolah seluruh nuraniku berkata aku akan merasa lebih takut kehilanganmu dari sebelum-sebelumnya.

Berhari-hari, berminggu-minggu aku mencoba menafsirkan keanehan ini. Lebih aneh lagi ketika hatiku berdebar melihatmu berdiri di depan kelas, memicingkan mata mencari gerombolan temanmu di lapangan. Atau ketika kamu menggandeng tanganku menyeberang jalan. Perhatian yang biasa, tapi rasanya tidak biasa.

Berkali-kali aku mencoba mengingkari ketika hatiku menyebutkan satu alasan : aku jatuh cinta pada sahabatku.

Benarkah itu? Aku mencari penjelasan logis dari semuanya.

Hingga pada akhirnya aku menyerah. Perasaan itu terus saja berpolah, meski dikurung dalam peti berkunci besi.

Aku telah mematahkan prinsipku sendiri : tidak akan jatuh cinta pada sahabat. Tapi ayolah, bahkan aku sendiri pun tidak bisa menahannya untuk tumbuh.

Hanya itu, alasan satu-satunya untuk semua keanehan ini. Hanya itu, yang bisa aku sampaikan padamu.

-sahabatmu-

letter

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

con il pieno d’amore…

Juni 1, 2009 at 1:21 pm (tulisan tangan)

aq berjalan di sampingmu
tapi tak ada yang kau lakukan
tidak memegang tangan seperti ketika Cinta pergi bersama Rangga untuk pertama kali
atau merangkul pundak seperti seorang jagoan
tapi kau berpindah ke sisi kiri saat kita menyebrang
dan berjalan di sisi luar saat kita menyusuri pinggir jalan

aq berdiri di sampingmu
ketika kau bertemu teman-temanmu
aq merasa asing, kau tau itu
dan kau menatap mataku
seolah berkata, “ayo kita pergi dari sini”

tak apa,,
cuma satu yang membuatku akan tetap di sampingmu
yaitu bahwa kau ada di sini untukku
hanya karena aq

con il pieno d’amore…

always with you

always with you

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar