mae
Kaki-kaki melangkah di depan mataku. Kaki-kaki yang bergerak cepat ingin mengalahkan waktu yang telah tercipta. Dari sini aku bisa melihat mereka yang begitu tergesa. Dunia seolah akan segera kiamat. Tak ada yang melihat seonggok daging bernyawa ini sedang menikmati pagi baru yang tak bermakna. Pagi yang sama seperti pagi-pagi kemarin, pagi yang ingin segera kuakhiri. Tiba-tiba sekeping uang receh dilemparkan ke hadapanku. Sialan! Apa aku terlihat seperti seorang pengemis?! Aku tidak butuh recehan ini! Aku bukan orang yang suka menadahkan tangan menunggu rejeki datang. Berhari-hari aku menjalani kehidupan seperti ini. Tak pernah aku terpaksa mengemis karena kehabisan uang. Aku ini anak pejabat. Mana mungkin aku kehabisan uang.
Jalanan semakin ramai. Kaki-kaki itu melangkah semakin cepat. Mungkin mereka takut terlambat. Takut disetrap, takut diskors, takut dipecat, atau mungkin takut hari ini segera habis. Semua bagai rekaman video yang dipercepat 4 kali. Berlawanan, tapi tak ada yang bertabrakan.
Aah, sudah waktunya aku memulai hari ini. Kubereskan karton alas tidurku dan tas yang menjadi alas kepalaku. Kumulai petualanganku sekali lagi hari ini. Tujuanku cuma satu, mencari kekasih hatiku yang diculik. Diculik? Ya, dia memang diambil paksa dariku untuk diperistri oleh seorang bajingan yang mengaku dirinya normal, lelaki sejati. Memangnya aku nggak normal apa? Aku juga manusia yang memiliki tubuh sempurna, tak bercacat. Setahuku aku juga tidak punya sejarah kelainan jiwa atau sejenisnya. Jadi, aku juga normal.
Kekasihku diculik dan dibawa ke kota ini oleh bajingan itu. Penculikan atas dasar nama baik keluarga. Bullshit! Kenapa seluruh dunia seolah tidak mendukungku menjalin cinta dengan kekasihku? Kami saling mencintai, lalu apa yang salah?! Aku bisa membiayai hidupnya, lalu apa yang kurang?! Bahkan orangtuaku pun tak merestui hubungan kami. Dia adalah belahan jiwaku, dan dia pergi membawa hatiku. Untuk itu aku harus mencarinya dan membawa kembali hatiku yang dibawanya.
Kutelusuri jalan-jalan ini seorang diri, berjalan kaki. Bajuku lusuh, entah kapan aku terakhir mandi. Tapi penampilan seperti ini menguntungkan juga. Setidaknya aku terbebas dari para pencopet. Mungkin mereka berpikir apa yang bisa dicopet dari gembel seperti aku. Paling orang-orang cuma berkomentar, “Sayang, cakep-cakep gembel !” itu pun kalau mereka masih sudi melihat wajahku.
Berjalan seorang diri tak membuatku takut. Untuk apa? Hampir seumur hidupku aku sendirian. Mana orangtua yang seharusnya perhatian dan penuh kasih sayang? Mana teman-teman yang mendorong di saat bimbang? Semuanya semu. Tak ada yang benar-benar peduli padaku, kecuali kekasihku tentunya. Mereka hanya melihatku saat aku melakukan kesalahan dan menjadikannya sebuah aib. Tapi aku senang dengan kesendirian ini. Setidaknya aku bisa menikmati duniaku, dunia yang dianggap haram oleh kaum awam, tapi menyenangkan.
Aku terus mencari tanpa tahu arah kakiku melangkah. Bagaimana aku bisa tahu kalau tidak ada petunjuk apapun dimana kekasihku berada? Aku melangkah dengan membawa keyakinan aku akan sampai padanya. Keyakinan yang menjadi pegangan, siapa tahu Tuhan mendengarnya.
Saat itu akhirnya datang. Aku melihat kekasihku di depan sebuah rumah. Ooh, tak tertahankan rasa rindu yang membuncak ini. Aku segera menghampirinya, ingin memeluknya, menciumnya, dan membawanya kembali ke pangkuanku. Tapi langkahku terhenti. Sialan! Dia bersama bajingan itu. Ingin sekali aku mehajarnya sampai babak belur. Kalau bisa sampai dia tak sanggup lagi berdiri apalagi menyombongkan kejantanannya. Tapi aku tak mau mengotori tanganku dengan menyentuhnya. Tujuanku hanya membawa kembali kekasihku dan hidup bersama selamanya, seperti dongeng-dongeng pengantar tidur. Jadi aku menunggu. Menunggu kekasihku sendirian dan siap kuajak pergi. Tapi sampai kapan aku harus menunggu?
Tak lama untuk kesempatanku tiba. Tak lama setelah aku berpikir tentang kehidupan bahagia yang akan kami jalani berdua.
“Mae…” Ia menatapku, antara heran, senang, bingung, dan beragam ekspresi yang tak kumengerti.
“Sayang, aku datang!” Serta merta aku memeluknya, menciumnya, menghirup aroma rambutnya, tubuhnya, semuanya tak berubah, “Aku kangen banget. Aku mau bawa kamu pergi.”
Satu reaksi yang tak kusangka, ia malah menggeliat melepaskan pelukanku.
“Mae, mendingan kamu bersihin badan kamu dulu,” ujarnya.
Sampai saat itu aku belum mencium suatu kejanggalan apapun. Bagai seekor anjing aku menurut saja dituntunnya ke kamar mandi.
Tak lama waktu yang kubutuhkan untuk membersihkan diri. Apalagi aku sudah kangen berat pada kekasihku.
“Put, cepat kamu bereskan barang-barang kamu! Kita pergi dari sini sekarang,”
Sekali lagi reaksi yang tak kusangka. Ia hanya terdiam, bungkam seribu bahasa.
“Put…”
Perlahan ia mendekatiku, menyentuhkan jemari lembutnya di pipiku.
“Maafin aku, Mae, tapi aku nggak bisa ikut kamu pergi,” katanya.
Kata-kata yang mengerikan di telingaku. Terasa menusuk dan menyakitkan.
“Kamu pasti sudah dipengaruhi bajingan itu. Dikasih makan apa kamu sama dia?!”
“Mae, ini keputusanku!”
“Tapi kenapa, Put?”
Ia diam sejenak, melewatiku, lalu memandang keluar jendela seolah-olah ada sesuatu yang ajaib di sana. Ayolah, tak usah mengulur-ulur waktu seperti ini!
“Aku butuh pengakuan.”
Bagai diserum listrik ribuan volt aku mendengarnya, membingungkan sekaligus menyakitkan.
“Denganku, kamu selalu diakui.” ujarku geram, karena aku tak tahu apa yang salah dengan hubungan kami.
“Kita nggak cuma hidup berdua, Mae! Aku butuh pengakuan dari orang-orang. Aku nggak bisa hidup sama kamu.”
“Kamu lebih peduli orang-orang daripada aku, Put?! Kamu sama aja sama semua brengsek itu!”
“Mae! Aku cuma ingin hidup normal, tanpa pandangan sinis orang.”
“Kamu pikir kita gila? Kamu yang gila, Put! Kita ini manusia bebas. Nggak ada yang bisa melarang kita untuk saling mencinta.”
“Tapi kenyatannya semua melarang, Mae! Orangtua kamu, orangtuaku, semua orang nggak setuju sama hubungan kita.”
“Put, kamu menyesal? Kamu menyesal menjadi seorang lesbian?” Ia menggeleng kuat sambil menutup telinga,” Kamu menyesal mencintai aku?” nadaku meninggi.
Ia terus menggeleng, “Jangan ucapkan kata-kata itu lagi, Mae!”
“Apa? Kamu malu dengan predikat LESBIAN? Realize it, Put! That’s what we are!”
Ia mengeluarkan airmata yang konyol. Harusnya kan aku yang menangis. Harusnya aku yang terluka.
“Mae, tolong pergi! Please…”
Tanpa permohonan yang lebih menyakitkan lagi aku pergi. Tak peduli pada airmata Putri yang semakin deras atau tangisannya yang semakin kencang. Ia sudah menolakku. Menolak hidupku yang dulu pernah dijalaninya. Tak ada rasa sakit yang lebih perih dari ini. Ya, inilah jalan hidup yang harus kutempuh. Jalan hidup seorang lesbian. Apa ini dosa? Apa ini virus yang dengan cepat menulari orang-orang disekitarku sehingga aku harus mendapatkan penolakan seperti ini? Aku adalah seorang lesbian dan selamanya akan seperti itu. Sekali lagi aku menyusuri jalanan tanpa tujuan yang jelas. Kali ini benar-benar tidak jelas, karena tujuanku telah mati.
untitled
entah apa yg terjadi..
ketika semua kesialan dan masalah berkumpul jadi satu..
dan tak ada satu orang pun yang bisa kuajak pergi,
melihat semuanya jauh dari tempat tertinggi..
kemana dia yang mengaku sejati?
haruskah aku terjatuh dahulu agar dia bisa melihatku berdarah-darah?
sampai akhirnya semua memuncak..
aku benar-benar terjatuh..
jadi turis di kota sendiri
tanggal 24jan kemarin temen2 smp yg dari bandung dateng ke jogja. dan saya resmi jadi guide mereka selama seminggu. sebenarnya bukan guide sih. lha wong aq aj masih ngeraba-raba, ga hapal daerahnya. so, lebih tepatnya ikutan jadi turis di kota sendiri..=)

beteng...apa ya?kulon ato ap ya?lupa..

suatu sudut borobudur
malioboro, keraton, museum kereta, tamansari, alun2 kidul (masangin), angkringan, jeron beteng, kaliurang, borobudur, prambanan, parangtritis, kukup, krakal, sate kelinci, amplaz, ketep, kedungkayang…keliling kota deh……mpe gosong, mpe pegel, mpe mo tumbang, tapi satu yg tetep: narsisan.

the beach
nasib jadi fotografer, fotonya dikit.
teman2, kapan kita mengulang petualangan itu lagi ya???
REUNI
Harun mematut diri di depan cermin, merapikan kemeja biru dan celana jeans baru di atas tubuhnya yang sedikit kaku. Malam ini ia akan menghadiri reuni SMA. Harun merasa agak kikuk, mencoba menarik nafas berkali-kali dan terbatuk. Bayangan akan bertemu dengan teman-temannya yang sudah dua puluh satu tahun tak bertemu membuatnya gugup. Dua puluh satu tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk berpisah. Bukan pula waktu yang sebentar untuk kembali dengan perubahan-perubahan berarti pada hidup masing-masing.
Harun mengambil sisir, merapikan rambutnya yang berbelah pinggir. Uban sudah merajalela di beberapa bagian.
Harun mengambil minyak wangi, menyemprotkan pada tubuhnya. Sret..sret.. Aroma semerbak langsung memenuhi ruangan. Bercampur antara aroma minyak wangi dan kopi yang masih mengepul. Atau aroma minyak wangi dan bau apek tumpukan baju kotor di pojok ruangan. Pemandangan yang kontras dengan penampilan Harun saat ini. Harun memandang berkeliling kontrakannya. Kontrakan yang menghabiskan separo gajinya yang tak seberapa. Kontrakan yang hampir tak dapat dibedakan dengan kandang sapi karena terlalu banyak barang berserakan. Satu alasan Harun mempertahankan kondisi seperti itu ialah takut barangnya menghilang jika dibereskan. Maka tak heran setiap pengunjung yang mampir tak akan betah berlama-lama tinggal.
Jam dinding berbunyi sekali. Jarum panjang dan pendek menunjukkan pukul 6. Harun menarik nafas. Ia harus berangkat sekarang atau akan terlambat. Reuni akan diadakan di gedung SMAnya dulu. Lumayan jauh. Sekali lagi ia mematut pantulan dirinya di cermin. Bayangan seorang pria berusia thirty something di depannya sedikit kuyu. Matanya sayu dan memancarkan sedikit rasa malu. Benaknya dipenuhi berbagai perkiraan. Kira-kira siapa saja yang akan ditemuinya. Kira-kira sudah jadi apa teman-temannya. Kira-kira apa yang akan menjadi bahan obrolan mereka. Kira-kira ia akan bertemu dengan cinta pertamanya atau tidak. Kira-kira..kira-kira..
Setelah memastikan semuanya sempurna, Harun beranjak menuju pintu. Kunci mobil sudah di tangan. Mobil yang susah payah dipinjam dari sepupunya dengan 1001 rayuan plus sogokan makan di “tempat terhormat”. Hari ini adalah hari penting baginya. Karena itu, semua harus tampak sempurna. Meskipun Harun harus memanipulasi penampilannya sedemikian rupa.
Tak sulit bagi Harun menemukan teman-teman seangkatannya di antara ribuan peserta yang hadir. Mereka berkumpul di belakang kantin, tempat biasa mangkal kala sekolah. Reuni ini akbar, membuat Harun tambah gemetar. Apalagi ketika ia melihat satu persatu teman-temannya berpenampilan layaknya orang sukses. Entah karena sukses betulan atau pura-pura sukses seperti dirinya.
Adya, anak walikota kala itu, sudah menjadi wakil rakyat di parlemen. Atik, anak guru biologi, juga menjadi guru biologi di sebuah sekolah internasional. Membuktikan kebenaran pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
Tapi rasa terkejut tak mampu disembunyikan Harun ketika melihat Digo, yang dulu terkenal sebagai tukang pukul, menjadi seorang rohaniwan. Geo yang dulu selalu menconteknya saat ulangan dan meminjam PRnya sudah menjadi direktur sebuah perusahaan perbankan. Membuktikan lagi bahwa waktu mampu mengubah segalanya seperti nasib bisa merubahmu 180 derajat. Harun melihat dirinya. Ia sudah kalah oleh waktu. Ia kalah karena tak mau berlari. Ria, cinta pertamanya, sudah menikah dan memiliki tiga orang anak. Harun ciut. Dari lima wanita yang pernah dipacarinya, tak ada satupun yang bersedia berikrar sehidup semati bersamanya. Bukan sepenuhnya salah mereka. Ia sendiri yang tak percaya bahwa ia akan mampu memberikan cinta sebesar itu.
Kemudian sampailah pada situasi yang sangat dibencinya. Mulai dari
“Kamu kerja apa sekarang?”
“Anakmu berapa?”
sampai
“Ayo kita kumpul-kumpul lagi. Di rumahmu ya!”
Oh tidak..
Harun ingin teriak. Ia ingin segera beranjak. Batinnya tak bisa menahan lebih lama lagi. Ia seperti seorang pecundang di tengah kehidupan teman-temannya yang gemilang. Reuni yang sempurna seketika berubah menjadi petaka. Ia ingin kabur. Tapi nasi sudah jadi bubur. Harusnya ia tak memenuhi undangan reuni ini, yang sudah menjadi ajang pamer kepura-puraan baginya.
Ia iri, merasa tak sebanding. Lebih dari itu, ia malu. Apa yang dilakukannya selama ini? Waktu terus berjalan dan tak ada waktu untuk berhenti barang sejenak. Pilihan yang ada hanyalah terus berjalan atau tertinggal. Dan ketika waktu terus berjalan, tanpa terasa kita telah jauh melangkah. Tak ada jalan untuk kembali. Tak akan ada.
Harun beranjak mundur, mencoba mengumpulkan kembali penyesalan-penyesalan yang selama ini diacuhkannya.
a phone call
kau terkejut membaca pesanku. lalu tergesa menelepon dengan pertanyaan yang sudah kuduga. ingin rasanya aku berlari keluar, berteriak untuk lepaskan semua, menghindar darimu. tapi aku harus di sini, menjawab rasa penasaranmu yang tak pernah bisa kuhentikan. kau terus mengejarku dengan pertanyaan itu, seperti sahabat yang terlalu peduli.
sejak kapan kita jadi sahabat? kau hanyalah sahabat temanku dan aku bicara padamu semata karena kau adalah kandidat yang ditawarkan. lalu aku jatuh cinta sebelum persahabatan itu dimulai, dan tak pernah menyadari bahwa ini akan cepat selesai. apa yang harus kulakukan setelahnya? tetap menjadi sahabatmu yang baik? sejak kapan kita jadi sahabat?
aku diam. kau pun akhirnya diam.
tapi kediaman ini terasa menusuk, menyakitkan. mimikku pasti menunjukkan kalau aku tidak nyaman. tapi kau disana, tak akan bisa melihatnya.
“besok. gak tahu sampai kapan di sana,” tenggorokanku akhirnya mengizinkan kata-kata itu keluar.
aku diam lagi. kau pun tak memberi reaksi. kediaman ini semakin menyakitkan karena kutahu kau pun merasa tak nyaman di sana.
satu detik, dua detik, lima detik kemudian baru kau membuka suara.
“aku akan kehilangan sesuatu tanpa kamu.”
kau tak pernah cukup memilikiku untuk merasa kehilangan. bahkan mungkin setelah satu minggu atau dua minggu kau akan melupakan percakapan ini. tapi tidak untukku. dua tahun bergulat dengan perasaan sebelum akhirnya kupilih jalan ini, semata karena kutahu kau tak mungkin memilihku. dan hidup tak memberi pilihan. mungkin ini satu-satunya cara agar aku bisa melupakan bahwa aku pernah jatuh cinta dan memberi pelajaran untuk tidak lagi mencuri start.
kau menyudahi pembicaraan dengan cara yang aneh. entahlah, karena di sini juga terasa aneh. aku masih memandangi pesawat telepon itu, seolah bisa melihatmu di ujung sana.
apa yang kau lakukan sekarang? menangis? semoga tidak. karena jika ya, aku akan serta merta berlari kepadamu, memelukmu erat seperti seorang ibu tak mau dipisahkan dari anaknya. dan itu akan semakin membuatku gila.
goes to surabaya!!
Libur masih 1 minggu lagi. Pikiran suntuk, bisanya cuma ngangguk-ngangguk. Daripada ngantuk, mending qt cabut ke…Surabaya!!!
Berawal dari celetukan ngasal para ortu yg ngeliat anak2nya kayak ayam mau bertelur karna kelamaan libur, akirnya aq, fian, n laras kabur ke surabaya. Papanya fian masih disana, jadi urusan akomodasi ga ada masalah. Asiik..traveling lagi! Pengennya kayak jejak petualang. Ato koper dan ransel (versi ransel tentunya). Ato day tripper (ari daging n gwen winarno)..
Jujur, ini pertama kali aq k surabaya. So so excited.. surabaya yg katanya panas, banyak nyamuk, semrawut, kayak apa sih?? Sampai sana, ternyata bener. Apanya ya? Selokannya ga ngalir! Makanya banyak nyamuk. Tapi soal panas, mungkin karena lg musim hujan, jadi ga terlalu. Samalah kayak jogja.
Tanggal 9 januari qt berangkat naik sancaka. Nyampe sana sekitar jam1an. Capek, train leg (halah..emang ada?). Akirnya qt istirahat aja.
Jalan2 dimulai di hari ke2. Tiap hari qt keluar. Rewang n papanya fian mpe heran, anak2 ini kok ga ada capeknya (ah, kayak ga tau qt aj). Janjian sama flori, temen sma. Qt ke pakuwon. Heran y, kemana-mana yg dicari mall jg.. Terletak jauh dari pusat kota, pakuwon kayak ada di kota sendiri. Isinya kebanyakan (sori, bukan rasis) cokin. Of course, mereka emang punya style sendiri. Modis. Gile, ga kuat deh!!
Hari minggu ke gereja. Abis itu qt menjelajah kota lagi. Kali ini bener2 versi ransel. Jalan kaki ke depan giant, naik angkot ke bonbin cuma buat foto di patung surabaya (yes right.. That icon, guys!). Ngeliat bangunan kirain museum, ternyata rumah kosong. Sempet ke taman bungkul, tempat nongkrongnya orang2 pacaran (agak2 absurd jg, knapa qt ksana). Abis tu pengen ke museum kapal selam. Berhubung buta arah n buta jalan, qt mpe nanya polisi (polisinya kayak ian kasela, pake kacamata item gitu). Mestinya pak polisinya difoto ya..

the icon
Naik angkot ke arah tunjungan plaza, ambil jalan yang belok kanan kira2 600 meter udah sampe museum. Karena kita heroik, yg 600 meter kita jalan kaki. Tapi kok rasanya berkilo-kilo meter ya..pake nyasar pula. n betapa senengnya qt waktu nemu tu museum. Kayak nemu oase di padang pasir (lebaii). Pas mau foto dari luar, eh hujan! Pulanglah qt dg hati berkecai (bahasanya..). naik angkot jalur V ke indosiar, trus naik becak mpe rumah (gila tu becak! Morotin..)
Pelajaran hari ini : banyaklah bertanya jika anda mau jadi traveler.
Hari ke3 qt ke malang. Sungguh malang nasib, hujan ga berenti2. Jadinya ga bisa ke batu. But finaly, i’ve came to those city^^

kereta itu

naik angkot biar afdol